EnglishIndonesia

Jambore 2006

MEMORI JAJ 2006
JAJ... Aha aha, I like it!


Penggalan lagu tersebut terus menggema di Camping Ground Ragunan, tepatnya selama dua hari Sabtu-Minggu 8-9 Juli 2006 sepanjang kegiatan Jambore Anak Jalanan (JAJ). Acara tahunan yang digelar dalam rangka Hari Anak Nasional ini merupakan event rutin Sahabat Anak – satu komunitas kaum muda yang peduli dengan komunitas anak marjinal, khususnya anak jalanan, dengan fokus kegiatan sosial dalam bidang pendidikan. Jumlah peserta yang diundang sekitar 350 anak dari 10 area urban ibukota, yakni Grogol, Manggarai, Cijantung, Prumpung, Jatiasih, Senen, Bekasi, Klender, Buaran, dan Gambir. Tema yang diusung sepanjang acara 2 hari 1 malam itu adalah tentang Hak Anak Indonesia (HAI). Berbagai kegiatan digelar, berupa: penyambutan, pembukaan, parodi, pemutaran film, aktivitas tenda (hias tenda & kolase), talent show, sharing kelompok, senam pagi, games, penutupan (pengumuman juara dan pembagian hadiah), dan pemulangan kembali para peserta dengan bis-bis sewaan ke titik lokasi di mana mereka dijemput.
1 Kakak 2 Anak

Selama Jambore, berlaku sistem pendampingan, di mana 2 anak terus ‘didampingi’ oleh 1 kakak (menemani makan, ke kamar mandi, tidur di tenda, berlomba, dan aktivitas lainnya). Jadi selain 50-an panitia dan 300-an anak, lebih dari 100 muda-mudi dilibatkan dalam ajang tahunan ini.
Stigma bandel, nakal, kriminal, jorok, asusila – pudar perlahan manakala dari bibir mungil mereka mengalir kisah pengusiran dari sekolah tiap kali ada biaya yang tidak mampu dibayar atau kala tersibak lebam dan bekas luka pemukulan di tubuh kurus mereka tiap kali “setoran” kurang. Mata kita terbuka, bahwa pada dasarnya mereka masih polos, sama persis dengan anak-anak normal lainnya. Begitu lincah, aktif bergerak di area rerumputan Ragunan; namun saat akan menaiki bis pulang, tak urung mata mereka basah karena enggan berpisah. Demikian pula para “kakak” yang harus melepas kembali sang adik kembali ke kehidupan yang keras.

Harapan Sederhana

Dalam salah satu aktivitas tenda, tiap peserta diminta mencari dan menggunting gambar dari koran-koran bekas. Foto/gambar pilihan tersebut ditanggapi oleh mereka dalam bentuk tulisan bebas – boleh singkat, boleh panjang, berbentuk puisi, esay, ataupun tulisan sekedarnya.
Hasilnya, cukup menghenyakkan. Ada guratan kemarahan, ada goresan ketakutan, ada lantun harapan, dan protes ketidakadilan. Karya mereka menyiratkan harapan sederhana, kebutuhan akan hal-hal yang sulit mereka wujudkan – yang ironisnya menjadi ketersediaan kita yang tak tersyukuri sehari-hari – seperti buku tulis, uang sekolah, kesempatan untuk mengerjakan PR, makanan, waktu untuk bermain... sekali lagi, hal-hal sederhana. Sebagian kecil di antaranya, dapat Anda simak di halaman KOLASE.

PR Besar SA
Terima kasih tak terhingga kepada para donatur dan sponsor yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Kaus kuning HAI, bingkisan pulang, hadiah perlombaan, makanan, minuman, tenda, panggung, sound system, lapangan, bis-bis, dan hal-hal lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Disadari benar, acara selama 2 hari belum mampu menjadi solusi penuh bagi mereka. Tantangan untuk terus melakukan follow-up seperti pembinaan rutin di Bimbel-bimbel, pembekalan mental dan ketrampilan (life skill), pelayanan kesehatan, dan program-program lainnya masih menjadi pe-er besar bagi Sahabat Anak. Maukah Anda turut serta di dalamnya?

Jambore Sahabat Anak 2012