Hari Sahabat Anak
Sejarah Hari Sahabat Anak
Dalam perjalanannya, Sahabat Anak menyadari bahwa pemenuhan hak-hak anak adalah satu pekerjaan akbar yang tidak bisa dilakukan sendiri. Sahabat Anak perlu melibatkan berbagai pihak – sesuai kapasitasnya masing-masing – agar tercipta satu gerakan yang mendatangkan kemaslahatan bagi anak-anak Indonesia, khususnya anak marjinal. Inilah inti dari Gerakan Sahabat Anak.
Karenanya, pada tanggal 17 Februari 2008, diadakan Hari Sahabat Anak (HSA) pertama kalinya dengan melibatkan 1.500 peserta yang terdiri dari anak marjinal binaan Sahabat Anak dan mitra, karyawan perusahaan pendukung dan keluarganya, personil atau keluarga yang berdiam di Jakarta untuk berSAHABAT sehari penuh di kawasan Kridaloka Senayan yang disulap menjadi arena permainan dan panggung gembira (diawali Jalan Cinta, yakni jalan bersama di seputar Senayan).
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berkenan membuka dan membacakan Deklarasi Sahabat Anak.
“Gerakan Sahabat Anak mengakui bahwa setiap anak mulia dan berharga,
yang memiliki kesetaraan dengan semua manusia.
Gerakan Sahabat Anak menghargai, menghormati, dan memperjuangkan terwujudnya
hak-hak dasar anak untuk bertahan hidup, bertumbuh kembang,
memperoleh perlindungan, dan berpartisipasi.
Sebagai Sahabat, kami akan memberikan tenaga, pikiran, dan waktu agar setiap anak
dapat terpenuhi hak-hak dasarnya tanpa memandang perbedaan
suku, agama, warna kulit, dan kelas sosial.”
Sejak itu, setiap tahunnya di tanggal yang sama, Hari Sahabat Anak menjadi momentum Kampanye Gerakan Sahabat Anak dengan gol utama pemenuhan hak-hak anak, khususnya anak marjinal dengan melibatkan partisipasi publik, lembaga, pemerintah, perusahaan, media, dan siapapun yang peduli. Mereka yang percaya bahwa generasi anak adalah investasi bangsa di masa depan.
Untuk Indonesia yang lebih baik.






“SUARAKAN IMPIANMU!”
Ini adalah tahun ke-4 sejak Hari Sahabat Anak dimulai tahun 2008. Hari Sahabat Anak adalah milik semua orang yang ingin menjadi sahabat bagi anak-anak, khususnya anak-anak marjinal, dan mau bergandeng tangan untuk membantu mereka memperoleh hak-haknya sebagai seorang anak.
